[Documentary] Wave From The Indian Ocean

Lima belas tahun lalu, laut pernah menghancurkan Aceh pada 26 Desember 2004. Laut yang biru, laut yang selalu menjadi tempat masyarakat Aceh menghabiskan akhir pekan bersama keluarga mereka, tempat dimana anak-anak belajar berenang bersama ayah mereka, ternyata mampu mengambil semua kenangan indah, merenggut nyawa orang-orang yang kita cintai. Laut menyapu rata rumah-rumah, kota kami mati hari itu.

Beberapa tahun setelah tsunami terjadi, masyarakat mulai kembali ke daerah asal mereka yang dekat dengan laut dan tinggal di rumah-rumah bantuan. Tapi masyarakat sekitar tidak mengizinkan membuka laut kembali untuk kegunaan rekreasi publik dan sebagainya, karena mereka menganggap bahwa laut adalah sumber bencana. Kemudian pada tahun 2009, laut kembali dibuka untuk umum karena banyaknya masyarakat sekitar yang mata pencaharian mereka berasal dari laut.
 

Banyak korban-korban tsunami yang selama bertahun-tahun tak pergi ke laut sebab mereka takut akan laut. Mereka melihat bagaimana laut yang biru berubah menjadi hitam pekat, laut berubah menjadi hal yang mengerikan.

Perlahan-lahan orang-orang mulai berani lagi mendatangi laut. Mereka tidak bisa menjauhi laut sebab laut berada dekat dengan mereka. Laut dulunya menjadi tempat mereka mencari nafkah. Penduduk sekitar mulai membangun usaha seperti kedai-kedai makanan di pinggir laut. Laut kembali hidup seperti sedia kala.

Kini, setelah 15 tahun berlalu, perekonomian tumbuh di sepanjang pantai. Orang-orang ramai berdatangan untuk menikmati laut dan melihat matahari tenggelam di sore hari. Pantai kembali ramai dengan tawa anak-anak yang bermain ombak. Orang-orang yang dulunya takut dengan laut akibat tsunami, kini telah bangkit dan hidup dari kerja keras yang mereka lakukan di laut. Laut, walaupun dulunya pernah membawa luka yang dalam, tapi kini dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat sekitarnya. Laut sudah tak semenakutkan dulu lagi.

Aceh Art Community Project 2020 Present Documentary Film "Wave From The Indian Ocean"
Line Producer : Ahmad Ariska
Director : Shiti Maghfira, Ahmad Ariska
Cameraperson : Ahmad Ariska
Drone Operator : Aceh Aerial
Film Editor : Amondaya Alfanmono
Voice Over : Dosi Elfian
Music Scoring : Ashamaluevmusic
Translator : Kamarullah Gani, Ridwan Nasruddin

And special thanks to : Erwan Irawati, Ahmad Haikal and the many extraordinary people of Lhoknga, Lampuuk